Tampilkan postingan dengan label belajar sopan santun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label belajar sopan santun. Tampilkan semua postingan

7 Tips Cara Mengajari Anak Sopan Santun

Sebagai bangsa timur, sopan santun adalah harga mutlak yang harus di terapkan dalam karakter dan kepribadian anak-anak kita. Karenanya semua orang tua sangat mendambakan anak-anaknya memiliki karakter yang sopan dan santun. Yang jadi masalah adalah sopan santun merupakan hal yang sulit untuk di ajarkan kepada anak-anak kita. Sebagai orang tua, sangatlah penting untuk memberikan pengertian kepada anak-anak kita betapa pentingnya sopan santun. imana sopan santun adalah sebuah kepentingan bersama yang patut dijaga agar setiap orang dapat hidup berdampingan di dunia. Dan, sopan santun juga merfleksikan kepribadian yang penuh cinta dan tenggang rasa.


1.  Hormat menghormati
Percaya atau tidak, mengajarkan sopan santun perlu dimulai dari bagaimana orangtua memperlakukan anak sejak lahir. Menancapkan sopan santun dimulai dari rasa hormat kepada orang lain dan menancapkan rasa hormat dimulai dari sensitivitas terhadap orang lain termasuk anak. Anak yang sensitif akan secara alami menjadi anak yang penuh hormat karena Ia selalu peduli akan perasaan orang lain. Otomatis, anak yang sensitif juga akan menjadi anak yang sopan.
Kesopanan adalah sebuah skill yang  lebih kreatif dan  tulus ketimbang apa yang bisa dipelajari anak dari sebuah buku etiket. Dalam beberapa tahun terakhir, sangat dianjurkan orangtua mengajarkan anak-anak  untuk lebih "asertif." Menjadi akan tetap asertif sehat, asalkan tidak mengesampingkan kesopanan dan tata krama yang baik.
2.  Ajarkan Kata-kata Sopan Sejak Dini
Ajarkan balita berusia 2 tahun Anda untuk mengatakan “minta tolong” dan “terima kasih” sejak dini. Kendati mereka tak sepenuhnya mengerti arti kata-kata tersebut, balita akan mengartikan kata “minta tolong” sebagai cara tepat mendapatkan yang diinginkan. Begitu pula, kata “terima kasih” adalah cara mengakhiri interaksi dengan baik. Tanamkan ini sebagai kebiasaan dan jadikan kosakata yang baik bagi anak. Pada akhirnya mereka akan terbiasa dengan pemahaman, membuat orang lain merasa senang juga penting ketika mereka berinteraksi.
Jangan lupa, orangtua juga harus memulai lebih dulu dengan kebiasaan baik ini. Bahkan ketika anak belum paham arti kata ini, sebaiknya mereka terbiasa mendengar mommy atau ayahnya kerap mengatakan ini. Anak-anak  memang akan membeo kebiasaan ini, namun kebiasaan ini baik ditanamkan jauh-jauh hari kendati mereka belum benar-benar mengerti arti sebenarnya.
3.  Teladan Sopan Santun
Sejak anak berusia 2 tahun hingga 4 tahun, kerap mengulang apa yang mereka dengar. Biarkan anak-anak kerap mendengar kata-kata yang baik seperti “minta tolong”, “terima kasih”, “terima kasih kembali”, dan “permisi”. Kendati kata-kata ini ditujukan pada orang lain, anak-anak dapat belajar dari apa yang mereka dengar dan lihat dari orang dewasa. Biarkan anak menangkap kesan dan situasi dari pembicaraan yang sopan.
4.  Ajarkan Memanggil Nama
Cobalah membiasakan memanggil nama ketika berinteraksi dengan anak-anak. Namun tentu saja, dengan cara yang hangat. Anak-anak juga akan belajar sopan santun dengan bicara menyertakan namanya, misal, “Ayah, bolehkah Ade...” atau “Bu, apakah ibu ijinkan Ade..”. Kendati sesekali permintaan anak sedikit mendesak atau memaksa, orangtua pasti akan lebih terkesan dengan kata-kata yang sopan.
5.  Tetap Perhatikan Anak
Sebuah pepatah lama yang mengatakan, "anak-anak sebaiknya melihat dan bukan mendengar"  mungkin diciptakan oleh orang yang tak memiliki anak. Ajaklah anak-anak sesekali dalam kegiatan orang dewasa, terutama jika tak ada anak-anak lain ikut serta. Ketika anak hanya berada di antara orang dewasa, mereka akan kerap membuat masalah sebagai upaya mencari perhatian Anda. Bahkan anak yang selama ini berperilaku baik sekalipun.
Cobalah memperkenalkan dan menyertakan kehadiran sang anak, ini  akan mengajarkan keterampilan sosial pada anak. Tetaplah terkoneksi dan pertimbangkan  situasi anak yang dapat memperlihatkan perilaku kurang menyenangkan. Selama aktivitas Anda bersama orang dewasa lain, upayakan tetap dekat dengan anak paling kecil Anda. Jangan lupa tetap lakukan kontak mata dan berbicara padanya.  Bantulah anak merasa menjadi bagian dari aktivitas sehingga dapat mengusir kebosanan dan keinginan membuat masalah.
6.  Jangan Paksakan Sopan Santun
Bahasa adalah kemampuan yang sebaiknya mengalir, bukan dipaksakan. Boleh saja sesekali Anda meminta anak mengatakan “minta tolong” atau “terima kasih”. Selalu mengulang (secara kaku) meminta anak mengatakan “kata ajaib” sebagai syarat memberikan sesuatu, akan membuat anak merasa bosan dengan kata-kata sopan sebelum mereka memahaminya. Jika Anda ingin meminta anak mengatakan “minta tolong”, sebaiknya sekedar katakan saja dengan cara yang baik. Dan pastikan mereka mendengar kalimat yang Anda utarakan. Kebiasaan ini akan lebih cepat ditangkap jika Anda memberikan permintaan dengan kalimat-kalimat yang enak didengar sembari senyum terkembang di wajah orangtua.
7.  Koreksi Secara Sopan
Ketika  anak membuat sebuah kebodohan atau kesalahan, jaga intonasi dan suara tetap terkontrol. Tetap upayakan kontak mata dan letakkan tangan di bahunya sembari menasihati. Gestur ini merefleksikan jika orangtua mengoreksi anak karena kepeduliannya. Dan, bukan karena marah.
Kesopanan yang diperlihatkan pada anak akan menunjukkan betapa berharganya anak di mata orangtua. Dan, orangtua ingin anak belajar dari kesalahannya serta selalu mendengarkan nasihat orangtua.  Kelak, anak juga akan menjadi orang dewasa yang dapat menghormati dan menghargai orang lain.
Jadi, pernahkah Anda perhatikan mengapa anak-anak bisa menjadi anak yang sopan? Alasannya, karena mereka dibesarkan di lingkungan yang memberikan mereka kesopanan.

Belajar Sopan Santun untuk Anak

Semua orangtua pasti senang melihat "perilaku manis" anaknya. Tetapi, sikap sopan dan santun tidak dibawa sejak lahir. Orangtualah yang wajib mengajarkannya sejak dini.

Apa yang akan Anda lakukan saat si kecil mengeluarkan kata-kata yang kurang pantas pada orang lain? Mencubitnya, mendiamkannya, atau memarahinya saat itu juga?


Semua orangtua tentu berharap anak mereka bersikap sopan dan santun. Namun, budi pekerti atau tata krama yang baik tidak bisa muncul begitu saja. Anak perlu mendapat pengajaran bagaimana bersikap sopan dan santun.

Mulailah sejak dini, yaitu segera setelah anak lahir. Pada mulanya, sikap sopan dan santun yang dilakukan anak hanya sebuah pola meniru apa yang dilakukan orangtua. Ini adalah hal yang wajar karena anak masih berpikir konseptis. Tetapi jika anak sudah semakin besar ia akan menyadari bahwa sopan santun sangat penting. Tidak hanya bagi orang lain tetapi juga bagi dirinya. Anak yang santun biasanya akan disenangi dan mendapatkan tempat di lingkungannya.

Memang, tidak mudah menerapkan sopan santun pada anak. Tetapi jika orangtua berhasil mengajarkan sopan santun pada anaknya, si kecil akan tumbuh menjadi seseorang yang berperilaku baik di sepanjang hidupnya. Meskipun, tidak dapat dipungkiri bahwa lingkungan di luar rumah juga memiliki peran yang sangat besar pada pembentukan perilaku yang sopan dan santun ini.

Dengan membekali anak pengetahuan bagaimana bersikap santun, maka pada akhirnya anak akan kembali pada pendidikan yang telah diberikan orangtuanya. Secara spesifik, berikut kiat mengajarkan sopan santun pada anak yang dapat segera diterapkan sejak anak lahir.

Berikan contoh dalam kehidupan sehari-hari
Anak adalah peniru paling ulung. Bahkan, saat masih belum dapat berbicara pun, anak sudah bisa menirukan perbuatan yang kita lakukan. Meskipun dalam "bahasa dan bentuk" yang lain. Sangatlah tepat ungkapan “anak-anak mendengar tidak dengan telinga, melainkan dengan matanya” Itu artinya, orangtua harus menjadi contoh nyata bagaimana bersikap sopan dan santun. Waspadalah pada setiap tindak tanduk yang Anda lakukan. Si kecil senantiasa mengintai gerak gerik Anda.

Ajarkan 3 kata penting
"Terima kasih", "Tolong", dan "Maaf" adalah 3 kata penting yang sebaiknya diajarkan sejak anak lahir. Ucapkanlah kata "Tolong" jika ingin meminta bantuan anak. Ucapkan "Terima kasih" bila si kecil melakukan sesuatu untuk Anda, dan jangan segan berkata "Maaf" jika Anda berbuat salah.
Dengan demikian anak akan mengetahui bahwa dirinya dihargai dan ia pun akan terbiasa menghargai orang lain.

Latihan sambil bermain
Mungkin Anda sudah berusaha mengajarkan sopan santun pada anak. Tapi bisa saja ketika anak berhadapan dengan orang lain ia melakukan perbuatan yang kurang santun. Jangan menyerah. Cobalah melatih sikap sopan santun dengan mengajak anak bermain peran.
Coba minta si kecil menjadi tamu dan Anda tuan rumahnya. Lakukan juga peran sebaliknya. Berperanlah sebagai tuan rumah yang sopan dan minta si kecil berperan sebagai tamu yang sopan. Biasanya, saat berperan anak akan menjadi "aktor" yang baik sehingga ia akan melakukan skenario yang sudah disepakati. Saat anak bersikap santun dalam peran yang dimainkannya pujilah perbuatannya. Tunjukkan bahwa Anda sangat menghargai sikap positif ini.

Harus konsisten
Anak sering lupa bagaimana bersikap baik, sehingga sangat wajar bila ia tiba-tiba melakukan tindakan kurang sopan. Jangan langsung memarahinya. Tapi ingatkan dia bahwa tindakan tersebut tidak sopan. Beri peringatan dengan cara yang menyenangkan. Misalnya, "Wah, karena terlalu haus, jagoan Bunda lupa bilang terima kasih ya..."
Untuk membentuk sikap yang sopan dan santun orangtua harus konsisten dan jangan bersikap permisif atau memaklumi dengan alasan apapun. Bila anak melakukan tindakan yang tidak sopan, ingatkan lagi, lagi dan lagi.

Jangan dijadikan lelucon
Sikap yang kurang sopan bukan lelucon atau bahan guyonan. Jangan menertawakan si kecil saat ia melakukan tindakan yang tidak santun. Bila Anda atau anggota lain melakukannya, anak akan berpikir perbuatannya lucu, wajar dan benar. Ini akan membuat si kecil semakin sulit memahami makna sopan santun, apalagi mempraktekannya.
Tunjukkan perhatian Anda
Si kecil sering melakukan tindakan yang tidak santun hanya untuk menarik perhatian orangtuanya. Karena itu, sebaiknya sesibuk apapun Anda di meja makan, bersama tamu atau dengan pekerjaan Anda, berikan perhatian pada anak. Berikan pujian jika si kecil menunjukkan perilaku yang sopan dan santun.
Apa yang perlu Anda lakukan jika si kecil mendapatkan perlakuan yang tidak sopan atau melihat tindakan yang tidak santun?
  1. Sebaiknya Anda segera memberitahukan si kecil bahwa tindakannya itu tidak baik dan ia tidak boleh menirunya.
  2. Berikan teguran yang sopan pada orang yang telah berlaku tidak santun pada anak Anda. Ini akan menunjukkan bahwa Anda konsisten dan bahwa siapapun yang melakukan sikap tidak santun tetap tidak baik.
  3. Akan sangat baik jika anak yang melakukan teguran tersebut. Akan terasa lebih menyentuh. Kalimat yang keluar dari mulut si keceil mulut si kecil mungkin adalah "Tante...kata Mama kalau lewat harus bilang permisi."
sumber: https://www.sahabatnestle.co.id/Page/anak/parenting/tips/mengajarkan-si-kecil-sopan-santun

Entri Populer