Tampilkan postingan dengan label cara mendidik anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cara mendidik anak. Tampilkan semua postingan

Tips Mendidik Anak Dengan Sabar


Bagi para pendidik di lembaga pendidikan anak usia dini (paud) maupun di taman kanak-kanak dan juga bagi orang tua hari ini ada tambahan satu tips lagi dalam mendidik dan mengasuh anak. Tips yang satu ini berkaitan dengan Anda sebagai seorang pendidik. Dalam artikel kali ini kita akan mencoba membahas sikap emosional yang seringkali dialami oleh pendidik dan orang tua dalam mendidik anak. Sebagai sosok yang menjadi panutan bagi anak Anda dituntut untuk bisa mendidik anak-anak dengan baik dan benar serta positif bagi perkembangan anak.
 
Mendidik anak perlu kesabaran dan kebijakan yang tinggi. bagaimanapun, kondisi emosional pendidik / orang tua sangat berpengaruh terhadap perkembangan emosional anak. jika anak sering berada di lingkungan emosional yang tidak stabil maka secara otomatis anak akan memiliki tingkat kecerdasan emosional rendah. tentunya ini sangat merugikan karena keberhasilan seseorang kelak lebih banyak ditentukan karakter anak yang didalamnya kondisi emosional seseorang.

Membuat anak memiliki karakter dan kecerdasan emosional tentu memerlukan proses panjang dimana setiap orang tua harus berusaha mengendalikan emosi pada saat mendidik anakmaupun di kehidupan sehari hari yang sejatinya merupakan lingkungan sesungguhnya dari perkembangan anak Anda.

Beberapa tips yang dapat dilakukan untuk mengendalikan emosi ketika mengasuh anak antara lain :

1. Pujilah hal menyenangkan yang dilakukan anakmaka kita juga akan ikut senang

2. Sikapi dengan bijak setiap kesalahan yang dilakukan anak dan segera tunjukkan langkah perbaikannya dengan sabar dan konsisten

3. Tarik nafas secara perlahan sedalam mungkin dan lepaskan tanpa sepengetahuan anak jika emosi Anda telah memuncak dengan ulah anak setelah itu tersenyumlah terhadap anak Anda.

Mudah mudahan beberapa tips mengontrol emosi dalam mendidik anak diatas dapat dijadikan jalan bagi Anda untuk meningkatkan kecerdasan anak, membentuk karakter anak yang unggul agar kelak menjadi pribadi yang unggul

Cara Mendidik Balita Menjadi Anak Yang Sholeh

Memiliki anak sholeh merupakan dambaan setiap keluarga. Di samping sebagai penerus keturunan, kelak anak sholeh juga akan menjadi investasi di masa yang akan datang. Pada usia dini, seorang anak akan lebih mudah untuk menerima perubahan ketimbang ketika ia telah dewasa. Dan pada usia dini itulah, masa pembentukan jati diri, pola pikir dan watak sang anak sedang berproses.

Dalam masa pembentukan itulah, orangtua hendaknya memberikan perannya secara optimal. Orangtua harus mampu memberikan pengaruh positif kepada sang anak. Isilah kepala, hati dan jiwa anak anak yang sedang dalam proses pembentukan tersebut dengan nilai nilai yang baik. Orang tua harus dapat menjadi filter bagi berbagai unsur negatif yang dapat merusaknya. Jangan sampai sang anak justru memperoleh pengaruh-pengaruh negatif dari luar.

Untuk itu, langkah terbaik untuk menjadikan seorang anak menjadi sholeh/sholehah hendaknya dilakukan sejak dini. Saat memorinya belum terkontaminasi dengan pengaruh-pengaruh negatif. Anda dapat mulai membiasakan beberapa hal berikut kepada diri dan anak anda sejak dini:

1.Bangunkan shubuh sejak balita
Bangun pada waktu shubuh adalah sebuah aktivitas yang sangat berat bagi orang-orang yang tidak biasa untuk melakukannya. Untuk itu, membiasakan membangunkan anak pada waktu shubuh sejak balita adalah langkah terbaik untuk menjadikannya sebagai sebagai sebuah kebiasaan.

2.Berikan lingkungang pergaulan dan pendidikan yang islami
Lingkungan dan pergaulan adalah salah satu faktor penting dalam pembentukan karakter seorang anak. Maka, dalam hal ini anda dapat memulainya dengan mengirimkan anak anda ke TPA (Taman Pendidikan Al Quran) atau mengikuti kursus-kursus islam di Masjid dan sebagainya.

3.Jangan egois!
Orang tua adalah teladan yang pertama bagi anaknya, maka jadilah teladan yang terbaik bagi anak anda. Jangan bersikap egois. Jangan hanya memerintahkan anak anda untuk mengaji atau pergi sholat berjamaah, sedangkan anda tidak melakukannya. Karena hal tersebut akan menimbulkan pembangkangan kepada anak, minimal secara kejiwaan.

4.Safari Masjid
Bawalah anak anda untuk melakukan safari masjid minimal sepekan sekali. Hal ini bertujuan untuk menanamkan rasa cinta terhadap masjid dan sholat berjamaah dihati anak.

5.Perkenalkan batasan aurat sejak dini
Umumnya, cara berpakaian kita saat ini adalah kebiasaan yang sudah kita bawa sejak kecil. Seorang anak dibiasakan menggunakan pakaian yang ketat, dibiasakan berpakaian tanpa jilbab, maka hal tersebut akan terbawa hingga remaja dan dewasa. Kebiasaan ini akan sangat sulit sekali untuk merubahnya. Dengan alasan gerah, panas, nggak nyaman, ribet, nggak gaul, nggak PD, dan dengan seribu alasan lainnya mereka akan menolak penggunaan pakaian yang menutup aurat.

Jika kita memperkenalkan batasan aurat kepada anak kita dan membiasakannya untuk menggunakan pakaian yang menutup aurat sejak dini, insya Allah keadaannya akan berbalik. Ia akan merasa berdosa, malu, nggak nyaman, bersalah, dan menolak untuk beralih ke pakaian-pakaian yang tidak menurut aurat. Ia akan berpikir seribu kali, bahkan tidak terpikir sekalipun dan sedikitpun untuk melakukannya.

6.Selalu membawa perlengkapan sholat
Ajarkan kepada anak untuk selalu membawa perlengkapan sholat kemanapun mereka pergi sekiranya akan melewati masuknya waktu sholat.

7.Meminimalisir mendengarkan musik-musik non islami
Minimalisir mendengarkan lagu-lagu non islami seperti lagu-lagu picisan, rock, barat, dan lain-lain. Maksimalkan membaca AL Quran berjamaah, mendengarkan kaset mu’rotal, mendengarkan kaset ceramah atau nasyid islam.

8.Buatlah jadwal nonton TV
Hendaknya, orang tua tidak membiasakan menonton acara TV bersama anak yang tidak mengandung unsur pendidikan kepada anak, misalnya sinetron, film horor, film-film cengeng (romantika), dan lain-lain.

9.Ajarkan nilai-nilai islam secara langsung
Ajarkan nilai-nilai islam yang anda kuasai secara langsung kepada anak anda sejak dini. Sampaikan dengan bahasa-bahasa yang menarik, misalnya melalui sebuah cerita.

10.Bacakan hadits Rasulullah saw dan ayat Al Quran
Bacakan hadits Rasulullah saw dan ayat Al Quran, sesuai dengan kadar kemampuan si anak. Hubungkan hadits dan ayat Al Quran ketika kita memberikan nasihat atau teguran mengenai perilakunya sehari-hari.

11.Jadilah sahabat setia baginya
Perkecil menunjukkan sikap menggurui kepada anak, bersikaplah sebagai seorang sahabat dekatnya. Jadilah tempat curhat yang nyaman, sehingga permasalahan anak tidak akan disampaikan kepada orang yang salah, yang akhirnya akan memberikan solusi yang salah pula.

12.Ciptakan nuansa kehangatan
Nuansa hangat dan harmonis dalam keluarga akan memberikan kenyamanan bagi seluruh anggotanya, termasuk anak. Hal ini akan memperkecil masuknya pengaruh buruk dari luar kepada anak. Ia tidak akan mencari tempat diluar sana yang ia anggap lebih nyaman dari pada di rumahnya sendiri.

13.Sampaikan dengan dengan bijak, sabar, dan tanpa bosan
Ingat! Yang sedang anda bentuk adalah makhluk bernyawa, bukan makhluk yang tidak bernyawa. Maka sampaikan semuanya dengan penuh kesabaran, kebijaksanaan, dan jangan pernah merasa bosan untuk mengulangnya. Jangan menggunakan kekerasan, dan hindari emosi yang akan membuat anak sakit hati.

Cara Mengajarkan Anak Bersikap Baik

Sikap seseorang dapat ditentukan oleh pendidikan anak usia dini. Sebagai orang tua, Anda harus memperhatikan bagaimana anak-anak Anda di masa depan. Itulah mengapa Anda perlu mengajari mereka nilai-nilai yang baik sehingga mereka akan memiliki sikap yang baik dan sopan santun. Oleh karena itu, kami memiliki beberapa tips untuk Anda.

Hal penting yang perlu diingat adalah bahwa Anda menjadi contoh anak-anak Anda. Mereka akan meniru apa yang Anda lakukan. Jika Anda ingin anak-anak Anda memiliki sopan santun dan etika, kemudian Anda menjadi orang pertama yang mengajarkan mereka nilai-nilai yang baik.


Jika Anda memiliki lebih dari satu anak, pastikan bahwa Anda mendisiplinkan mereka berdua. Jangan berpihak ke salah satu anak. Beberapa orang tua memperlakukan anak-anak mereka yang lebih muda kurang disiplin dibandingkan yang lebih tua. Pastikan bahwa Anda tetap adil terhadap mereka. Sejak awal, Anda harus tetapkan nilai-nilai baik ke dalam pikiran anak pertama. Ketika tua dia akan bersikap baik, yang lebih muda akan meniru sikap baik kakaknya.


Anda dapat mengajarkan mereka untuk bersikap sopan, terutama dalam bahasa. Gunakan beberapa ungkapan sopan, seperti “tolong”, “permisi”, “terima kasih kembali”, “terima kasih”, “Bolehkah saya?” dan seterusnya ketika Anda berbicara dengan suami/istri Anda atau orang lain. jika mereka sering melihat hal seperti ini, mereka akan terbiasa dengan menggunakan frase tersebut. Terus berlatih frase sopan meskipun Anda tidak menyukai orang yang Anda ajak bicara. Katakan kepada mereka itu bukan masalah, tapi untuk bersikap sopan adalah penting. Juga, memberitahu mereka bahwa setiap orang berhak untuk dihormati.

Anda juga dapat mengajari mereka cara makan. Buatlah makan malam sebagai kegiatan yang menyenangkan. Jangan hanya memberitahu mereka seperti mahasiswa perkuliahan. Selain cara makan, Anda dapat memberitahu mereka etika menggunakan barang-barang orang lain tanpa izin, bilang bahwa mereka tidak sopan. Anda dapat memberi mereka misalnya dengan meminta izin untuk menggunakan barang-barang mereka.


Satu hal yang lebih penting, Anda harus berhati-hati ketika mereka membuat kesalahan. Beri mereka teguran sopan dan edukatif. Jangan berteriak kepada mereka atau menyalahkan mereka. Anda dapat mengatakan, “Jenny, kau gadis yang baik, Seorang gadis yang baik tidak berbohong, kan, Sayang?” Di sisi lain, sementara mereka melakukan hal-hal yang baik, memuji mereka. Pujian akan memotivasi mereka untuk melakukan nilai-nilai yang lebih baik.

Diatas merupakan tips untuk membangun sikap yang baik untuk anak-anak Anda. Kami berharap bahwa itu berguna untuk Anda. Pastikan bahwa Anda mengajarkan mereka sopan santun sedini mungkin sehingga mereka memiliki kebiasaan positif ketika mereka tumbuh menjadi remaja dan dewasa.

Tips Agar Anak Tidak Kecanduan Bermain Internet

Internet semakin mudah untuk diakses oleh siapa saja, dimana saja dan juga kapan saja dan salah satunya adalah anak-anak. Memang dengan adanya internet semua pekerjaan akan semakin mudah, akan tetapi apabila ini terus dilakukan bisa berbahaya.

Terutama bagi anak-anak, oleh karena itu orang tua harus memperhatikan peralatan mainan sang anak agar tidak kehilangan arah yaitu internet. Berikut ini adalah cara agar anak tidak kecanduan pengaruh buruk internet:

1. Periksalah akun media sosial
Jika anda orang tua yang baik cobalah untuk selalu memeriksa akun sosial media anak Anda secara rutin hal ini agar anak tidak masuk ke dalam pergaulan bebas.

2. Jangan letakkan komputer di kamar anak
Anda meletakkan komputer di kamar anak anda? sebaiknya segeralah untuk memindahkan itu semua karena anak-anak bisa saja dengan bebasnya membuka situs yang sebenarnya tidak boleh di buka untuk orang seusianya.

3. Membuat peraturan rumah
Ini salah satu cara yang cukup ampuh, dengan memakai peraturan rumah seperti tidak boleh bermain di malam hari atau harus tidur sesuai jadwal yang telah di tentukan oleh anda para orang tua.

4. Ajari tentang tata krama internet
Dengan mengajarkan tata krama di internet maka anak akan dengan mudah untuk tidak melakukan sesuatu yang dapat merugikan dirinya dan juga orang lain.

Cara Terbaik Menerapkan Aturan Pada Anak-Anak

Orang tua tentu senang bila melihat rumahnya rapi dan bersih. Tapi, kebanyakan orang tua yang memiliki anak kecil, merasa hal tersebut mustahil terwujud. Mengingat anak mereka yang masih senang bermain dan mengotori rumah.

Tidak sedikit para orang tua yang berusaha menerapkan aturan pada anak mereka yang masih kecil. Tapi, bagaimana hasilnya? Mungkin tidak sedikit dari orang tua yang kewalahan sendiri dalam mengatur aturan itu sendiri.

Aturan itu dibutuhkan dalam keluarga agar semua merasa nyaman dan segala sesuatu yang dilakukan mengandung peran dan tanggung jawab. Begitu juga dengan anak-anak kita, walaupun mereka masih kecil tapi tetap harus mengikuti aturan yang dibuat oleh orang tuanya. Tentunya orang tua sangat senang melihat anaknya bisa mengikuti juga mematuhi segala perintah dan aturan yang sudah ditetapkan bersama.

Lalu, bagaimana cara terbaik menerapkan aturan pada anak-anak kita? Menerapkan aturan yang dibuat tanpa mengekang dan tentu bisa dipatuhi anak. Berikut ada beberapa tips yang perlu diperhatikan dalam membuat aturan keluarga:

1. Buat dan sepakati bersama anak aturan yang ditetapkan. Hal ini melatih  anak-anak untuk terbiasa diskusi dan juga mengetahui seperti apa kemauan sang anak untuk menerapkan aturan. Hindari aturan yang diktator atau hanya dari pihak orang tua. Orang tua juga harus taat pada aturan yang sudah disepakati.

2. Jika ada sanksi, harus diarahkan pada perbaikan tindakan anak. Misalnya jika anak memukul adiknya maka dia akan di beri hukuman time out agar dia bisa memikirkan dan mengoreksi tindakannya dan tidak mengulangi.

3. Hindari menunda sanksi agar anak segera mengoreksi tindakannya yang belum benar. Disiplin dalam memberi sanksi pada anak akan menumbuhkan rasa tanggung jawab akan perbuatannya.

4. Biasakan memberikan penguatan dengan pujian ketika aturan selalu dilaksanakan dengan baik. Pujian akan membuat anak semangat dalam mematuhi aturan yang sudah dibuat. Bila perlu, buat semacam perlombaan, dimana yang banyak mematuhi peraturan dirumah mendapatkan hadiah.

5. Konsisten dengan aturan yang telah disepakati bersama anak. Walaupun keadaan dianggap tidak memungkinkan. Aturan tetap harus dilaksanakan, hal ini melatih kedisiplinan.

Aturan yang ditetapkan harus jelas dan dipatuhi secara konsisten oleh seluruh anggota keluarga. Aturan di dalam rumah, bukan hanya ditujukan kepada anak kita, kita sebagai orang tua dan orang dewasapun juga harus menuruti aturan apa yang sudah dibuat. Hal ini juga bentuk contoh nyata, bahwa kedua orang tuanya juga mematuhi aturan yang sudah di buat, lalu mereka pun akan mengikuti.

Bukan hanya pada aturan, tetapi juga hukuman bila melanggar aturan juga harus orang tua patuhi. Kebanyakan aturan yang dibuat orang tua hanya akan menghukum anak-anak bila melakukan kesalan, tetapi orang tua tidak mau dihukum, ini bentuk ketidak disiplinan kita sebagai pembuat aturan. Jadi, biar anak mengikuti aturan contohi menerapkan aturan dan hukuman bersamaan. Agar anak merasakan keadilan dalam penerapan aturan tersebut.

Pengaruh Pola Asuh Terhadap Perilaku Anak

Pola asuh orang tua adalah pola perilaku yang diterapkan pada anak dan bersifat relative konsisten dari waktu ke waktu. Pola perilaku ini dapat dirasakan oleh anak, dari segi negative maupun positif.

Menurut Baumrind (1967), terdapat 4 macam pola asuh orang tua:
1. Pola asuh Demokratis
2. Pola asuh Otoriter
3. Pola asuh Permisif
4. Pola asuh Penelantar.

Pola asuh Demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. Orang tua tipe ini juga bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang berlebihan yang melampaui kemampuan anak. Orang tua tipe ini juga memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan, dan pendekatannya kepada anak bersifat hangat.

Pola asuh otoriter sebaliknya cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti, biasanya dibarengi dengan ancaman-ancaman. Misalnya, kalau tidak mau makan, maka tidak akan diajak bicara. Orang tua tipe ini juga cenderung memaksa, memerintah, menghukum. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua, maka orang tua tipe ini tidak segan menghukum anak. Orang tua tipe ini juga tidak mengenal kompromi, dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah. Orang tua tipe ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti mengenai anaknya.

Pola asuh Permisif atau pemanja biasanya meberikan pengawasan yang sangat longgar. Memberikan kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup darinya. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak sedang dalam bahaya, dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka. Namun orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat, sehingga seringkali disukai oleh anak.

Pola asuh tipe yang terakhir adalah tipe Penelantar. Orang tua tipe ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat minim pada anak-anaknya. Waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka, seperti bekerja, dan juga kadangkala biayapun dihemat-hemat untuk anak mereka. Termasuk dalam tipe ini adalah perilaku penelantar secara fisik dan psikis pada ibu yang depresi. Ibu yang depresi pada umumnya tidak mampu memberikan perhatian fisik maupun psikis pada anak-anaknya.
Pangaruh Pola Asuh Orangtua

Pola asuh demokratis akan menghasilkan karakteristik anak anak yang mandiri, dapat mengontrol diri, mempunyai hubungan baik dengan teman, mampu menghadapi stress, mempunyai minat terhadap hal-hal baru, dan koperatif terhadap orang-orang lain.

Pola asuh otoriter akan menghasilkan karakteristik anak yang penakut, pendiam, tertutup, tidak berinisiatif, gemar menentang, suka melanggar norma, berkepribadian lemah, cemas dan menarik diri.
Pola asuh permisif akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang impulsive, agresif, tidak patuh, manja, kurang mandiri, mau menang sendiri, kurang percaya diri, dan kurang matang secara sosial.
Pola asuh penelantar akan menghasilkan karakteristik anak-anak yang moody, impulsive, agresif, kurang bertanggung jawab, tidak mau mengalah, Self Esteem (harga diri) yang rendah, sering bolos, dan bermasalah dengan teman.

Dari karakteristik-karakteristik tersebut di atas, kita dapat mawas diri, kita masuk dalam kategori pola asuh yang mana. Apabila kita memahami pola asuh yang mana yang cenderung kita terapkan, sadar atau tidak sadar, maka kita dapat segera merubahnya.

Kita juga bisa kita melihat, bahwa harga diri  yang rendah terutama adalah disebabkan karena pola asuh orang tua yang penelantar. Banyak sekali para orangtua terutama para wanita karier yang suda mempunyai anak yang lebih cinta kepada pekerjaannya daripada kepada anaknya sendiri. Dia lebih banyak meluangkan waktu untuk mencari uang dan uang. Dia lupa kalau di rumah ada anak-anaknya yang membutuhkan kasih dan sayang dia. Pergi kerja disaat anaknya masih tertidur pulas, lalu pulang ketika anaknya sudah tertidur pulas lagi. Sehingga, anak-anak  lebih mengenal pembantunya daripada sosok ibunya sendiri.

Kegiatan Untuk Perkembangan Jiwa Anak

Macam-macam kegiatan  dan manfaatnya bagi perkembangan jiwa anak

A. Kegiatan Aktif

1. Bermain bebas dan spontan atau eksplorasi
Dalam permainan ini anak dapat melakukan segala hal yang diinginkannya, tidak ada aturan-aturan dalam permainan tersebut. Anak akan terus bermain dengan permainan tersebut selama permainan tersebut menimbulkan kesenangan dan anak akan berhenti apabila permainan tersebut sudah tidak menyenangkannya. Dalam permainan ini anak melakukan eksperimen atau menyelidiki, mencoba, dan mengenal hal-hal baru.


2. Drama
Dalam permainan ini, anak memerankan suatu peranan, menirukan karakter yang dikagumi dalam kehidupan yang nyata, atau dalam mass media.

3. Bermain musik
Bermain musik dapat mendorong anak untuk mengembangkan tingkah laku sosialnya, yaitu dengan bekerja sama dengan teman-teman sebayanya dalam memproduksi musik, menyanyi, berdansa, atau memainkan alat musik.

4. Mengumpulkan atau mengoleksi sesuatu
Kegiatan ini sering menimbulkan rasa bangga, karena anak mempunyai koleksi lebih banyak daripada teman-temannya. Di samping itu, mengumpulkan benda-benda dapat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial anak. Anak terdorong untuk bersikap jujur, bekerja sama, dan bersaing.

5. Permainan olah raga
Dalam permainan olah raga, anak banyak menggunakan energi fisiknya, sehingga sangat membantu perkembangan fisiknya. Di samping itu, kegiatan ini mendorong sosialisasi anak dengan belajar bergaul, bekerja sama, memainkan peran pemimpin, serta menilai diri dan kemampuannya secara realistik dan sportif.

B. Kegiatan Pasif

1. Membaca
Membaca merupakan kegiatan yang sehat. Membaca akan memperluas wawasan dan pengetahuan anak, sehingga anakpun akan berkembang kreativitas dan kecerdasannya.

2. Mendengarkan radio
Mendengarkan radio dapat mempengaruhi anak baik secara positif maupun negatif. Pengaruh positifnya adalah anak akan bertambah pengetahuannya, sedangkan pengaruh negatifnya yaitu apabila anak meniru hal-hal yang disiarkan di radio seperti kekerasan, kriminalitas, atau hal-hal negatif lainnya.

3. Menonton televisi
Pengaruh televisi sama seperti mendengarkan radio, baik pengaruh positif maupun negatifnya

Tips Agar Anak Mau Mendengarkan Orangtua


Perkataan orang tua seringkali diabaikan anak, atau bahkan tidak didengarkan sama sekali. Untuk itu berikut ini adalah tips jitu agar anak mau mendengarkan perkataan Anda:

1. Jadilah pendengar yang baik. Anak-anak tidak bisa belajar menjadi pendengar yang baik bila mereka tidak memiliki panutan yang baik. Pastikan Anda menunjukan apa yang Anda harapkan dari mereka dengan menjadi pendengar yang baik. Seperti pepatah tua, “Kita memiliki dua telinga dan satu mulut karena ada alasannya” maksudnya, dengarkan anak Anda bicara dua kali lebih banyak daripada bicara Anda.

2. Berbicaralah dengan penuh hormat. Bila Anda menjadi seorang anak, bagaimana Anda ingin diajak berbicara? Gunakan harapan Anda itu sebagai modelnya.

3. Beri perhatian dulu, baru berbicara. Dapatkan perhatian anak terlebih dahulu. Pastikan mereka melihat Anda sebelum Anda berbicara. Secara verbal, Anda juga bisa meminta perhatian anak. Saat bertatapan, Anda mendapatkan perhatian penuh dari anak. Inilah saatnya Anda menyatakan permintaan.

4. Berikan Peringatan. Adakalanya sulit mengalihkan perhatian, terlebih saat mereka sedang melakukan sesuatu yang menarik. Beri batasan waktu kepada mereka. Contohnya, “Ayah/Ibu perlu bantuan kamu dua menit lagi ya,” atau “Ayah/Ibu ingin berbicara dengan kamu lima menit lagi ya.”

5. Turunkan volume suara. Daripada berteriak, lebih baik turunkan volume suara Anda. Bicaralah dengan nada lebih lembut, tidak keras.

6. Jangan berpanjang lebar. Anak tidak mau mendengar kuliah panjang lebar. Jadi ungkapkanlah permintaan Anda dengan singkat dan langsung, contohnya, “Bereskan tempat tidurmu sebelum bermain!” Kadang, irit kata-kata juga membantu. Cukup satu kata kadang bisa menjadi trik yang baik, misalnya, “PR!“

Tips Mengembangkan Kecerdasaan Mental dan Intelektual Anak



Seorang anak adalah peniru ulung orangtuanya. Semua kegiatan dan kebiasaan baik atau buruk bisa mereka tiru dengan mudahnya. Jadi, jangan terburu menyalahkan anak bila mereka melakukan sesuatu yang kurang berkenan. Bisa jadi mereka hanya meniru tingkah laku kedua orangtuanya.
Kecerdasan pada dasarnya bisa dibedakan menjadi dua, yaitu kecerdasan mental dan kecerdasan intelektual. Peran orangtua untuk mengembangkan kecerdasan anak pun cukup besar.
Untuk mengembangkan kecerdasan mental, ada beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua, yaitu antara lain:
1. Menyediakan waktu luang baik untuk bermain maupun sekedar menemani kegiatan mereka sehari-hari, sebanyak mungkin. Anak-anak bukan hanya membutuhkan kualitas pertemuan, tetapi juga kuantitas pertemuan.
2. Menyediakan mainan yang bisa menarik perhatiannya. Ada baiknya jika orangtua menyediakan permainan edukatif yang berguna untuk perkembangan kecerdasannya.
3. Sesering mungkin bicara dan memujinya. Dengan memuji mereka, anak akan merasa dihargai dan tertantang untuk melakukan perbuatan yang lebih baik lagi.
4. Melatih imajinasi dengan membacakannya cerita.
5. Sebanyak mungkin anak diberi kesempatan meraba, memegang dan menyelidiki sekitarnya.
Hal-hal yang dapat dilakukan orangtua untuk mengasah dan mengembangkan kecerdasan intelektualnya, antara lain :
1. Membaca sambil bermain
2. Sebanyak mungkin menyediakan buku-buku bagi mereka agar mereka tergerak untuk suka membaca
3. Sesering mungkin mengunjungi toko buku atau perpustakaan untuk memancing minat baca mereka
4. Manfaatkan rasa ingin tahu anak

Cara Mendidik Anak Hiperaktif

Siapa bilang mendidik anak yang hiperaktif itu susah. Malah mendidik anak hiperaktif itu lebih mudah daripada mendidik anak pendiam. Anak hiperaktif sangat mudah diketahui apa maunya sementara anak pendiam biasanya suka membuat bingung Anda untuk tahu dia maunya apa karena dia sukanya diam saja atau malu untuk mengungkapkannya. Saya akan berbagi info mengenai cara mendidik anak hiperaktif. Dengan mengetahui hal yang simple ini, Anda akan bisa membuat anak menjadi cerdas dan berkarakter. Anak hiperkatif tersebut akan bisa mengaplikasikan karakternya yang sangat bersemangat itu ke hal-hal yang postif. Nah kalau anak terlalu banyak tingkah, jangan menyerah dulu. Anda sebagai orang tua harus bisa sabar dan memanfaatkan sifatnya tersebut.

1. Pastikan anak mendapatkan kegiatan tambahan. Dengan cara yang satu ini, anak akan punya sebuah tempat yang bisa digunakan untuk melampiaskan hiperaktifnya tersebut. Biasanya tempat yang pas untuk melakukan hal tersebut adalah karate, renang, atau olahraga bola. Beberapa kegiatan tambahan tersebut membutuhkan kerja keras dan tantangan luar biasa sehingga Anda bisa membuat anak lebih percaya diri dan semakin baik prestasinya di kemudian hari. Disamping itu ini juga bisa mencegah mereka untuk melampiaskan hiperaktifnya ke hal-hal yang sangat negatif dan bisa merusak masa depan semisal narkoba, merokok, dan lain sebagainya.

2. Jangan lupa untuk mengajarkan anak Anda untuk duduk diam sewaktu makan. Meskipun anak banyak tingkah, Anda harus membuatnya mengerti bahwa ada saat dimana dia tidak boleh hiperaktif yaitu pada saat makan. Tidak hanya makan, namun juga pada saat melakukan hal-hal lain yang normalnya membutuhkan ketenangan. Dengan mendidik anak untuk bersikap baik, mereka bisa menjadi anak yang tahu sopan santun dan tahu kapan harus bersikap hiperaktif dan kapan harus bersikap normal atau tenang.

3. Jangan segan untuk membuat anak Anda menjadi gembira setiap mereka menginginkan. Pastikan anak Anda diberikan beberapa faslitas yang menyenangkan di rumah. Hal ini bisa dilakukan dengan cara membelikan anak Anda mainan yang bermanfaat yang dapat membantu proses tumbuh kembangnya. Anda dapat memberikan fasilitas internet untuk anak Anda agar dia dapat bermain sambil belajar. Cara tersebut juga dapat membuat anak mengenal sisi lain dari dunia tehnologi dan membuat hiperaktifnya terarahkan ke hal yang positif.

4. Anda sebaiknya berhati-hati ketika memasukkan anak ke sekolah. Pilihan sekolah akan menentukan perkembangan sifatnya di kemudian hari. Kesalahan dalam memilih sekolah akan berakibat fatal dengan rusaknya moral anak Anda. Maka dari itu jaga selalu pergaulan mereka dan pilihlah sekolah yang berisikan anak-anak yang pintar dan berpendidikan. Jangan memilih sekolah yang menjadi "gudangnya anak nakal".

Entri Populer